in

Inilah Delapan Kekayaan Budaya Karanganyar, Nomor Satu Menjadi Favorit

Candi Cetho

Tak dinyana, Karanganyar punya banyak kekayaan budaya dan sejarah yang begitu mempesona. Banyak situs-situs budaya yang berusia ratusan tahun dan masih terhitung perawan-alias masih jarang dikunjungi wisatawan.

Situs budaya tersebut memainkan peranan penting dalam sejarah nusantara. Tak sekadar sebagai lambang, tapi juga memiliki pesan moral yang nampak maupun yang tersembunyi. Situs budaya tak hanya candi, tapi juga petilasan dan kehidupan pra-sejarah. Berikut beberapa situs sejarah yang ada di bumi Intan Pari:

1. Candi Cetho

Salah satu peninggalan Kerajaaan Majapahit di Karanganyar. Candi cetho dibangun di akhir masa kejayaan Majapahit di masa Prabu Brawijaya V. Candi yang terletak di dusun Cetho, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Karanganyar ini diperkirakan dibangun pada 1475 masehi.

Setelah lama terkubur, candi beraliran Hindu tersebut ditemukan oleh arkeolog Belanda, Van Der Vlies pada 1842. Saat pertama kali ditemukan, kondisi candi sangat memprihatinkan. Hanya ada reruntuhan bangunan candi dari barat ke timur sebanyak 14 teras atau tingkat.

Saat ini 9 dari 14 teras sudah diperbaiki. Juga ada tambahan bangunan baru seperti gapura di pintu masuk, pendopo untuk istirahat, dan beberapa patung yang terhitung baru saja diletakkan.

Candi ini tergolong penuh misteri. Aroma dupa dan kemenyan menyeruak begitu masuk ke kawasan candi. Sebab candi ini masih rutin dipakai penganut agama Hindu dan penganut kepercayaan untuk beribadah atau bersemedi.

Berada pada 1.497 meter di atas permukaan laut, candi cetho menawarkan pengalaman tersendiri bagi wisatawan. Sebab untuk menuju lokasi terhitung sulit dengan jalan yang sempit, menanjak dan berkelok. Bagi sobat yang kurang mahir mengendarai sepeda motor atau mobil, tidak disarankan berkunjung ke candi cetho. Lokasi candi ini di 7 derajat 35 menit dan 30,22 detik sisi selatan dan 111 derajat, 9 menit, dan 19,87 detik sisi timur.

Tapi segala kesulitan selama perjalanan sirna begitu menginjakkan kaki di candi cetho. Candi cetho yang berarti jelas-karena bisa dengan jelas melihat deretan gunung Lawu, gunung Merapi-Merbabu, dan puncak gunung Sindoro-Sumbing, menawarkan pemandangan mengagumkan.

Ada pendapat yang mengemukakan bahwa candi  ini dibangun jauh sebelum masa kerajaan Majapahit. Alasannya karena dibangun dengan batuan andesit dan punya relief sederhana. Sedangkan umumnya candi yang dibangun di masa Majapahit memakai bata merah dan reliefnya lebih rumit dan detail.

Bahkan sebagian arkeolog menilai model candi cetho seperti kebudayaan suku maya di Meksiko dan suku inca di Peru.

Apapun itu, nyatanya sekarang ini candi cetho lumayan ramai dikunjungi wisatawan. Tiket masuknya hanya Rp 3 ribu dan sobat bisa bebas menelisik setiap sisi candi cetho.

Jangan lupakan untuk melihat relief kura-kura raksasa dan relief alat kelamin laki-laki. Ya, karenanya candi ini juga disebut candi lanang alias laki-laki. Selamat berwisata.

Astana Giribangun Wisata Religi Karanganyar

Usaha Karanganyar dalam Mendorong Pemerintahan yang Baik dan Bersih