in ,

Pembuat Televisi Murah Berkualitas

Televisi Murah Karanganyar

Televisi Murah. Karanganyar.news. Kreativitas tak hanya ada di kota besar. Bahkan di kota kecil seperti Karanganyar, banyak sosok-sosok kreatif yang memiliki ide dan gagasan melampaui perkiraan banyak orang. Bisa jadi gagasan itu justru lebih maju dari mereka yang bermukim di kota besar.

Gagasan yang awalnya sebatas angan-angan, berani diwujudkan dalam keterbatasan. Hambatan dan tantangan tidak membuat semangat para tokoh muda inspiratif ini kendor. Justru menjadi cambuk semangat agar makin giat menghasilkan karya.

Marilah kita temui tiga sosok inspiratif dari Karanganyar ini. kita menyerap ilmu yang mereka miliki dan menemukan sendiri gagasan kreatif dari diri kita.

Pertama kita bertandang ke kampung Wonosari, Jatikuwung, Gondangrejo, Karanganyar. Kita menemui sosok inspiratif pencipta televisi rekondisi yang memanfaatkan bekas layar komputer, Bapak Kusrin.

Sosok kelahiran Boyolali ini terhitung fenomenal. Dia hanya lulusan sekolah dasar, setelah itu jadi buruh bangunan di Jakarta selama 5 tahun. Saat tidak bekerja, Kusrin rutin berburu elektronik rusak dan mengotak-atik agar kembali berfungsi. Sebuah hobi yang akhirnya mengantarkannya jadi kreator televisi rekondisi.

Berbekal jerih payah selama bekerja di Jakarta, dia pulang kampung dan menyeriusi bidang elektronika. Dia pernah bekerja di sebuah industri televisi rakitan dan setelah mahir, memutuskan membuka usaha sendiri.

Setelah mengambil alih usaha televisi rakitan kawannya, dia mulai produksi. Sayangnya harapan mendapatkan keuntungan terganjal. Uang ratusan juta rupiah sebagai modal awal amblas dalam setahun. Dia harus membayar utang peninggalan pemilik lama dan ada karyawan tidak jujur yang melarikan uang perusahaan.

Namun dia tak menyerah. Jiwa wirausahanya tetap menyala. Dengan bekal seadanya-yaitu 127 unit alat produksi, dia resmi mendirikan UD Haris pada 2011. Dia memilih memakai bekas monitor komputer karena lebih awet dibanding memakai bekas televisi tabung yang direkondisi.

Awal usaha, dia hanya punya seorang karyawan. Ada dua jenis televisi rakitan yang diproduksi yaitu ukuran 14 inch dan 17 inch, masing-masing dijual Rp 400 ribu dan Rp 550 ribu. Merek yang dipakai adalah Maxreen, Veloz dan Zener.

Usahanya terus berkembang. Sebab produknya cukup berkualitas dengan garansi setahun dan harganya terjangkau kalangan menengah ke bawah. Pada 2015, dengan 30 orang karyawan, dia bisa memproduksi 150 unit televisi rakitan. Pemasarannya di Jawa Tengah, Yogyakarta, sebagian Jawa Timur dan Jawa Barat.

Di tengah usahanya yang kian berkibar, badai kembali menghantam. Tiba-tiba tempat produksinya digerebek polisi. Dia dianggap melanggar hukum karena produknya tak memiliki SNI.

Kusrin pun kelimpungan. Sebagai orang yang buta sama sekali soal hukum, dia pasrah ketika polisi mengangkut ratusan televisi siap jual miliknya. Dia tak tahu jika produknya harus memiliki SNI.

Bertekad untuk terus maju, dia mengurus sendiri SNI pada Mei 2015 dan selesai pada Januari 2016. Ratusan juta rupiah kembali dia keluarkan untuk pengurusan SNI, sementara dia tidak berproduksi. Penghasilannya hanya mengandalkan servis televisi.

Kini Kusrin seperti memulai dari awal lagi. Tapi dia sudah lega karena produknya sudah diakui pemerintah dan dinyatakan layak meskipun televisi rakitan. Dia pun tak gamang berhadapan dengan industri besar karena pangsa pasarnya berbeda. Dia menyasar masyarakat menengah ke bawah.

Kisah Kusrin menuai simpati dari pejabat daerah hingga pusat. Bahkan dia pernah diundang Presiden Joko Widodo ke Jakarta untuk memaparkan seluk beluk bisnisnya. Presiden Jokowi mendukung sepenuhnya kreativitas anak bangsa dan berjanji memberikan pendampingan baik berupa permodalan maupun manajemen usaha.

Sosok seperti Kusrin hanya segelintir. Sejatinya masih banyak sosok kreatif dan inovatif yang selama ini luput dari perhatian. Pemerintah harus memberikan perhatian dan membantu mereka agar bisa berkembang dan sesuai

Batik Kayu

Mencari Laba dari Batik Kayu

Energi Alternatif

Si Perintis Energi Alternatif