in

Ibu Pertiwi Berduka

Bangsa Indonesia tengah berduka. Beragam kejadian bencana alam di berbagai daerah menyisakan tangis. Bencana alam merenggut nyawa saudara-saudara kita, terutama mereka yang ada di Kabupaten Pidie Jaya, Nanggroe Aceh Darussalam.

Gempa berkekuatan 6,5 skala richter meluluh lantakkan sebagian kota. Merubuhkan bangunan kokoh dan menimbun siapa saja yang tengah berada di dalamnya. Tercatat lebih dari seratus orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka berat dan ringan. Sementara ribuan orang dievakuasi ke tempat yang lebih aman.

Bencana alam juga terjadi di Bumi Intanpari pada Selasa, 29 November 2016. Sebanyak delapan orang petani Dukuh Tegalsari, Desa Bulurejo, Kecamatan Karangpandan, tertimbun longsor. Ada 5 orang yang selamat, salah satunya mbah Parno.

Parno mengatakan hari itu tidak ada tanda-tanda akan terjadi longsor. Seperti biasa dia dan petani lainnya tengah asyik di sawah untuk memanen padi yang mulai menguning. Saat tengah asyik, tak disangka tebing di atas mereka tiba-tiba bergerak.

Sekuat tenaga, lelaki 65 tahun ini meneriaki petani lainnya yang berada di dekat tebing agar segera menyingkir. Sayangnya lari mereka kalah cepat dengan kecepatan longsoran tebing. Alhasil dalam hitungan detik mereka sudah tertimbun tanah.

Parno relatif beruntung. Jaraknya yang cukup jauh dengan tebing membuat dia hanya tertimbun separuh badan ke bawah. Sementara tujuh rekannya seluruhnya tertimbun dan tak terlihat lagi.

Panik, Parno berusaha berteriak sekencang mungkin sembari mencoba lepas dari timbunan tanah. Dia harus mencari bantuan untuk menemukan petani lainnya, yaitu Paimin, Basuki, Dikem, Sodi, Sutoyo, Sugito, dan Daliyem.

Dengan bantuan warga dan relawan penanggulangan bencana yang cepat berada di lokasi, akhirnya lima petani berhasil ditemukan. Namun seorang di antaranya, yaitu Sutoyo, ditemukan sudah meninggal dunia.

Seluruh relawan terus bersemangat demi menemukan dua petani lainnya, Sugito dan Daliyem. Terkadang pencarian harus dihentikan ketika cuaca tidak bersahabat. Sebab dikhawatirkan justru mengancam keselamatan jiwa para relawan.

Akhirnya pada hari kelima pencarian, tim relawan berhasil menemukan jenazah Sugito. Meski ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, setidaknya melegakan relawan dan keluarga karena bisa mengetahui nasib Sugito dan bisa menguburkannya dengan layak.

Penemuan Sugito memacu semangat relawan dan warga. Segala upaya dikerahkan untuk mencari korban terakhir, Daliyem. Akhirnya di hari ke-8, Daliyem ditemukan sudah meninggal. Seluruh warga dan relawan mengucap syukur karena seluruh korban sudah ditemukan. Sehingga tak lagi menjadi ganjalan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Kejadian tersebut menjadi hikmah bagi semua orang. Bahwasanya kita harus bersahabat dan hidup selaras dengan alam. Salah satunya dengan menjaga lingkungan seperti tidak menebang pohon sembarangan atau tidak merusak lingkungan.

Pembangunan Infrastruktur Gairahkan Karanganyar

Awas! Bahaya Terorisme di Sekitar Kita